
Yogyakarta, 6 November 2025 – Yogyakarta menjadi saksi ‘duel’ gagasan yang sangat penting bagi calon pendidik Islam. Sehari sebelum penandatanganan kerja sama besar, Jurusan PAI UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon dan Prodi PAI UII Yogyakarta menggelar Visiting Lecturer dengan tema ” Keterampilan yang Diperlukan Guru di Masa Depan.” Acara ini sukses memantik semangat lebih dari 200 mahasiswa PAI dari kedua kampus—termasuk 199 mahasiswa Angkatan 2023 Jurusan PAI UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon—yang tumpah ruah mencari bekal untuk bertahan di dunia profesi yang semakin tak terduga.
Duo Pakar Ungkap Skillset Wajib Guru Abad ke-21
Acara ini secara resmi menghadirkan dua tokoh penting dari kedua institusi:
- A. Syathori, M.Ag., Dosen PAI dari UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, yang fokus pada integrasi teknologi dan pendidikan Islam.
- Mohamad Joko Susilo, M.Pd., Dosen PAI dari UII Yogyakarta, yang memiliki keahlian dalam metodologi dan filsafat pendidikan.
Dr. A. Syathori, M.Ag., membuka pemaparan dengan menyoroti pentingnya kecakapan Siber bagi guru PAI. “Guru di masa depan tidak hanya dituntut menguasai materi agama, tetapi harus menjadi arsitek pembelajaran digital. Mereka wajib mahir memanfaatkan Learning Management System (LMS), Artificial Intelligence (AI) untuk personalisasi pembelajaran, dan yang paling krusial: mengajarkan literasi digital beragama,” tegasnya.
Sementara itu, Dr. Mohamad Joko Susilo, M.Pd., menekankan pentingnya human skill yang tidak bisa digantikan teknologi. “Secanggih apa pun teknologi, guru adalah agen moral dan fasilitator karakter. Keterampilan yang paling dibutuhkan adalah empati, komunikasi persuasif, manajemen kelas yang inspiratif, dan kemampuan menumbuhkan cinta ilmu pada siswa,” jelas Dr. Joko. Beliau menambahkan bahwa guru masa depan harus mampu memimpin transformasi karakter, bukan sekadar transfer pengetahuan.

Sesi Tanya Jawab yang Panas dan Penuh Wawasan
Sini esi menjadi arena debat terbuka yang paling dinanti. Mahasiswa menunjukkan bahwa mereka tidak hanya menyimak, tetapi juga menganalisis masa depan mereka. Tiga penanya yang berhasil ‘mengguncang’ sesi tersebut dengan pertanyaan paling tajam dan strategis:
- Anggi: Bertanya tentang etika penggunaan AI, mempertanyakan batasan copy-paste antara guru dan AI dalam membuat modul ajar PAI.
- Nurlela: Mengajukan pertanyaan tentang strategi branding personal guru PAI di media sosial agar tetap profesional namun bisa diterima Gen Z.
- Fauzi: Meminta solusi nyata case-study tentang bagaimana cara mengintegrasikan moderasi beragama melalui platform TikTok atau Reels yang cepat.
Kualitas pertanyaan mereka diakui langsung oleh para narasumber. Bukan sekadar hadiah hiburan, panitia memberikan tiga door prize spesial kepada Anggi, Nurlela, dan Fauzi, sebagai penghargaan atas kecerdasan kritis mereka—sekaligus memacu mahasiswa lain untuk lebih aktif.
Acara Visiting Lecturer ini sukses menjadi preview kolaborasi akademik yang lebih besar antara PAI UIN SSC dan PAI UII Yogyakarta, membuktikan bahwa sinergi antar-kampus adalah kunci untuk menyiapkan guru-guru PAI yang benar-benar siap menghadapi masa depan.