Â
Perayaan wisuda selalu menjadi momen sakral yang menandai berakhirnya satu babak perjuangan akademik dan dibukanya lembaran tantangan baru. Hari ini, 26 November, di Hotel Apita Cirebon, UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon (SSC) menggelar wisuda ke-3, yang mengukuhkan gelar Sarjana, Magister, dan Doktor. Pemandangan ini bukan sekadar seremoni, melainkan sebuah penegasan komitmen institusi dalam mencetak generasi intelektual.
Pencapaian dan Refleksi Kualitas Lulusan
Fokus utama perayaan ini adalah kualitas luaran. Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) untuk jenjang S1, misalnya, meluluskan 33 wisudawan. Pencapaian Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) terbaik sebesar 3.72 yang diraih oleh Kotijah adalah bukti nyata bahwa dedikasi dan kerja keras masih menjadi kunci utama dalam meraih prestasi akademik tertinggi. Angka ini patut diapresiasi, namun sekaligus menjadi cerminan bahwa standar mutu akademik harus terus didorong. Solusi yang ditawarkan adalah memperkuat program bimbingan intensif dan peer-learning untuk memastikan bahwa rata-rata IPK lulusan secara keseluruhan dapat terus meningkat, tidak hanya bertumpu pada segelintir individu unggulan.
Pesan Kunci dan Tantangan Sesungguhnya
Kehadiran Rektor, para Wakil Rektor, Dekan, serta para ketua jurusan termasuk Ketua Jurusan PAI UIN SSC, Dr. Siti Maryam Munjiat, S.S., M.Pd.I., memberikan bobot pada acara. Pesan yang disampaikan oleh Dr. Siti Maryam Munjiat sangat tegas dan relevan: “Wisuda merupakan simbol kalian melanjutkan cita-cita sesungguhnya… jangan selesai berhenti pada titik ini, masih banyak peluang yang harus kalian kejar.” Pernyataan ini perlu diinternalisasi secara mendalam. Wisuda bukanlah garis akhir, melainkan titik tolak menuju kancah persaingan yang sesungguhnya, baik di ranah akademik maupun non-akademik.

Perbaikan Kurikulum: Menghubungkan Kampus dan Pasar Kerja
Menyambung pesan tersebut, perbaikan yang krusial adalah sinkronisasi antara kurikulum kampus dengan kebutuhan riil industri dan masyarakat. UIN SSC, khususnya prodi-prodi seperti PAI, harus berani melakukan pemutakhiran kurikulum secara berkala. Ini bukan hanya tentang ilmu keislaman semata, melainkan integrasi keterampilan abad ke-21. Lulusan harus dibekali dengan kemampuan literasi digital, soft skill kepemimpinan, dan kecakapan dalam beradaptasi dengan perubahan.
Solusinya adalah menggalakkan program magang wajib yang terstruktur (experiential learning) dengan durasi yang lebih panjang dan terarah. Program ini harus bekerja sama dengan institusi pendidikan, pemerintahan, dan lembaga nirlaba. Tujuannya adalah memberikan pengalaman praktis yang substansial, bukan sekadar menggugurkan kewajiban administrasi.
Peran Alumni: Jaringan dan Kontribusi Balik
Salah satu elemen yang sering terlewatkan adalah penguatan peran alumni. Setelah diwisuda, para lulusan ini adalah duta UIN SSC. Kampus memiliki tanggung jawab untuk menjaga hubungan ini, bukan hanya saat butuh akreditasi. Perbaikan yang mendesak adalah pembentukan dan aktivasi ikatan alumni yang kuat dan profesional. Ikatan alumni ini harus berfungsi sebagai jembatan informasi lowongan kerja, wadah mentoring, dan bahkan sumber dana beasiswa atau riset. Solusinya adalah mewajibkan setiap prodi memiliki basis data alumni yang aktif dan mengadakan pertemuan rutin (misalnya, alumni gathering atau career fair) untuk memfasilitasi networking antara alumni dan mahasiswa yang masih aktif.