Cirebon – Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (HMJ PAI) UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon periode 2025–2026 berhasil menggelar Seminar Internasional Moderasi Beragama pada Kamis, 2 Oktober 2025. Seminar dengan tema “Merawat Harmoni dalam Keberagaman: Perspektif Lintas Budaya tentang Moderasi Beragama” ini bertujuan menggali pemahaman mendalam tentang moderasi beragama (wasatiyyah) dalam konteks lintas budaya serta implementasinya dalam kehidupan masyarakat yang majemuk. Kegiatan yang diikuti akademisi dan mahasiswa ini dilaksanakan secara blandeed (luring dan daring), berpusat di Gedung Siber UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon.
Menghubungkan Teori dan Praktik Global
Seminar ini menghadirkan narasumber yang mewakili perspektif praktik di luar negeri dan kajian akademis di dalam negeri:
- Noer Latifah Laily, Lc. (Sekretaris Organisasi Nurusshobri Islamic Foundation of Suriname).
- Ibu Santy Martalia Musa (Istri Diplomat KBRI Uni Emirat Arab).
- H. Iwan, M.Ag. (Dosen PAI UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon).
- Ihsan Sa’dudin, M.Hum. (Anggota Rumah Moderasi Beragama UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon).
Diskusi hangat ini dimoderatori oleh Saudara Alenor Langiles Sharif (Mahasiswa PAI Internasional UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon) dan Saudari Fathiah Azzahra (Mahasiswi PAI UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon).

Pengalaman Lapangan dan Definisi Akademik
Noer Latifah Laily berbagi tentang praktik toleransi di Suriname, sebuah negara multikultural di mana kehidupan umat beragama berjalan harmonis, meskipun ada tantangan dalam pendidikan agama.
Santy Martalia Musa menyoroti bagaimana ajaran agama dapat beradaptasi tanpa kehilangan esensi nilai toleransi, keterbukaan, dan penghargaan terhadap perbedaan, berdasarkan pengalamannya di berbagai negara.
Sementara itu, narasumber domestik memperkuat landasan teoretis moderasi :
Dr. H. Iwan, M.Ag. menegaskan bahwa moderasi beragama (wasatiyyah) adalah jalan tengah yang menyeimbangkan pengamalan agama dengan nilai kemanusiaan dan kebangsaan. Beliau menekankan bahwa Pendidikan Islam harus menginternalisasi nilai tawassuth, tawazun, i’tidal, dan tasamuh untuk melahirkan generasi yang toleran dan akomodatif terhadap budaya lokal.
Ihsan Sa’dudin, M.Hum. mencontohkan praktik nyata di Indonesia, seperti saling bantu antarumat beragama dan kisah biksu Thailand yang beristirahat di masjid. Beliau menyimpulkan bahwa moderasi adalah proses, sedangkan toleransi adalah hasil nyata. Seorang moderat menolak ekstremisme (baik ultra-liberal maupun ultra-konservatif) dan tetap teguh pada keyakinan tanpa memaksakannya kepada orang lain.
Seminar yang berjalan interaktif ini mencapai kesepahaman bahwa moderasi beragama harus melampaui wacana akademik dan diwujudkan dalam praktik pendidikan, sosial, dan kehidupan sehari-hari. Tujuannya adalah menciptakan masyarakat yang damai, adil, toleran, dan berkeadaban. Keberhasilan seminar ini memperkuat posisi UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon sebagai institusi yang aktif merawat dan mengadvokasi nilai-nilai moderasi.