
Cirebon, 10 Oktober 2026. Suasana akademik di lingkungan Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon (UINSSC) tampak makin dinamis. Memasuki pertengahan semester ganjil, Prodi PAI secara resmi menggelar agenda Ujian Tengah Semester (UTS) bagi seluruh mahasiswa aktif dari berbagai angkatan.
Pelaksanaan UTS periode ini dirancang secara fleksibel dan proporsional. Berdasarkan kalender akademik dan skema perkuliahan yang berjalan, agenda evaluasi ini terbagi ke dalam dua rentang waktu, yakni sebagian mata kuliah menyelenggarakannya pada minggu keempat bulan Oktober dan sebagian lainnya berlanjut hingga minggu kelima bulan Oktober 2026.
Secara umum, konsentrasi pelaksanaan ujian tatap muka terpusat di Gedung N Kampus UINSSC. Sejak pagi, ruang-ruang kelas di Gedung N tampak diisi oleh para mahasiswa yang tekun dan fokus menyelesaikan lembar soal, dengan pengawasan ketat dari para dosen pengampu mata kuliah demi menjaga integritas akademik.

Menariknya, UTS di lingkungan Prodi PAI UINSSC tidak hanya terpaku pada pola ujian tertulis konvensional di dalam kelas. Dalam rangka menyesuaikan dengan Learning Outcomes (Capaian Pembelajaran) masing-masing mata kuliah, skema evaluasi dilaksanakan melalui kombinasi variatif: ujian tatap muka di kelas (in-class exam), penugasan berbasis riset/studi lapangan (fieldwork project), serta pengerjaan tugas mandiri yang terstruktur di rumah (take-home exam).
Inovasi dan fleksibilitas metode evaluasi ini mendapat perhatian khusus dari pimpinan program studi. Ketua Prodi PAI UINSSC, Dr. Siti Maryam Munjiat, S.S., M.Pd.I., menegaskan bahwa variasi bentuk UTS ini sengaja dirancang untuk mengukur kompetensi mahasiswa secara utuh, baik dari aspek kognitif, afektif, maupun psikomotorik.
"UTS bukan sekadar momen untuk menguji daya ingat mahasiswa terhadap teori di kelas, melainkan instrumen untuk mengukur sejauh mana pemahaman mendalam dan aplikasi ilmu itu terjadi. Melalui penugasan lapangan, misalnya, mahasiswa diajak untuk berinteraksi langsung dengan realitas pendidikan di masyarakat. Sementara ujian di kelas dan tugas rumah melatih ketajaman analisis serta kemandirian berpikir," tutur Dr. Siti Maryam Munjiat.

Variasi metode ini mendapat respon positif dari para mahasiswa PAI. Selain tidak menimbulkan kejenuhan, ujian berbasis proyek lapangan dan analisis kasus memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk mengasah keterampilan abad ke-21, seperti pemecahan masalah (problem solving), pemikiran kritis, hingga kolaborasi tim.
Dengan berjalannya UTS yang terbagi di minggu keempat dan kelima Oktober 2026 ini, seluruh rangkaian evaluasi diharapkan dapat berjalan tertib, lancar, dan objektif. Pihak pengelola Prodi PAI mengimbau seluruh mahasiswa untuk terus menjaga stamina, mengedepankan kejujuran akademik, serta memanfaatkan momen UTS ini sebagai pijakan untuk mengoptimalkan prestasi belajar hingga akhir semester nanti.
