Akselerasi UIN Siber Cirebon Menuju World Class University Antara Ambisi Global dan Integritas Akademik

Penulis Naskah Dr. Siti Maryam Munjiat, S.S., M.Pd.I.

Akselerasi UIN Siber Cirebon Menuju World Class University Antara Ambisi Global dan Integritas Akademik

Langkah UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon menggelar Rapat Koordinasi Tim Pemeringkatan Perguruan Tinggi pada 23 Januari 2026 merupakan manifestasi nyata dari ambisi institusi untuk sejajar dengan universitas kelas dunia. Kehadiran pimpinan universitas dan tim terkait yang dipandu langsung oleh Wakil Rektor I, Dr. H. Ayus A. Yusuf, M.Si., menunjukkan bahwa pemeringkatan bukan sekadar urusan administratif, melainkan prioritas strategis yang melibatkan seluruh elemen kepemimpinan. Hal ini menandakan adanya kesadaran kolektif bahwa reputasi akademik di era digital sangat bergantung pada pengakuan lembaga pemeringkatan internasional.

Visi Rektor, Prof. Dr. H. Aan Jaelani, M.Ag., dalam mengarahkan fokus pada lembaga publikasi seperti Times Higher Education (THE) dan World University Rankings (WUR) adalah keputusan yang sangat tepat. Di tengah persaingan global yang semakin ketat, indikator seperti kualitas pengajaran, riset, dan sitasi ilmiah menjadi standar emas yang tidak bisa ditawar. Dengan menjadikan THE WUR sebagai acuan, UIN Siber Cirebon sedang membangun kompas akademik yang jelas untuk mengukur sejauh mana dampak intelektual mereka diakui oleh komunitas sains internasional.

Salah satu poin yang sangat progresif dalam opini saya adalah kebijakan pemanfaatan artikel ilmiah berbasis Sustainable Development Goals (SDGs) sebagai alternatif skripsi bagi mahasiswa. Kebijakan ini merupakan solusi jenius untuk menjawab tantangan publikasi Scopus sekaligus memberikan sumbangsih nyata terhadap isu global. Mahasiswa tidak lagi hanya menulis karya yang berakhir di rak perpustakaan, tetapi didorong untuk memproduksi pengetahuan yang relevan dengan kebutuhan dunia, yang secara langsung akan mendongkrak skor sitasi universitas.

Namun, upaya untuk mendongkrak peringkat melalui penguatan publikasi Scopus bagi dosen dan mahasiswa bukanlah perkara mudah. Dibutuhkan perubahan paradigma dari sekadar menggugurkan kewajiban mengajar menjadi budaya meneliti yang organik. Penekanan Prof. Aan mengenai perlunya pendampingan terstruktur menjadi kunci, agar sivitas akademika tidak merasa berjalan sendirian dalam menghadapi kerumitan jurnal bereputasi internasional. Tanpa dukungan teknis dan bimbingan yang kuat, target publikasi tinggi dikhawatirkan hanya akan menjadi beban administratif bagi para akademisi.

Komitmen untuk menjadi Cyber Islamic University pertama di Indonesia juga memberikan nilai tawar unik dalam ekosistem pemeringkatan global. Fokus pada ekosistem riset berbasis siber memungkinkan UIN Cirebon untuk melakukan lompatan kuantum (leapfrogging) dalam hal efisiensi dan jangkauan riset. Jika dikelola dengan baik, identitas sebagai universitas siber dapat menjadi katalisator bagi indikator “pandangan internasional” atau international outlook, karena aksesibilitas riset mereka yang menembus batas-batas geografis secara daring.

Sisi lain yang patut diapresiasi adalah keterbukaan rektor mengenai pentingnya dukungan anggaran yang memadai. Ide-ide besar tentang pemeringkatan seringkali kandas jika tidak dibarengi dengan investasi pada infrastruktur riset dan insentif publikasi. Penegasan bahwa peningkatan peringkat tidak bisa dilakukan secara parsial menunjukkan bahwa UIN Cirebon memahami pentingnya sinergi antara perencanaan matang, pendampingan berkelanjutan, dan amunisi finansial yang kuat untuk mencapai target tersebut secara optimal.

Di tengah ambisi mengejar angka-angka dalam pemeringkatan, universitas harus tetap menjaga integritas akademik. Jangan sampai tekanan untuk publikasi Scopus membuat kualitas penelitian terabaikan demi kuantitas. UIN Siber Cirebon harus tetap memastikan bahwa riset-riset yang dihasilkan tetap memiliki kedalaman nilai-nilai keislaman yang menjadi khitahnya. Keberhasilan yang hakiki adalah ketika universitas berhasil meraih peringkat tinggi tanpa kehilangan identitas moral dan intelektual sebagai lembaga pendidikan tinggi Islam.

Secara keseluruhan, rapat koordinasi ini adalah sinyal kuat bahwa UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon siap bertransformasi menjadi pemain kunci di level global. Dengan kepemimpinan yang bervisi tajam dan strategi publikasi yang inklusif terhadap mahasiswa melalui isu SDGs, universitas ini berada di jalur yang benar untuk meningkatkan daya saing internasional. Jika konsistensi ini terjaga, bukan tidak mungkin UIN Siber Cirebon akan menjadi rujukan utama bagi institusi pendidikan tinggi keagamaan Islam dalam mengelola reputasi akademik di kancah dunia.

Salah satu peserta yang hadir di rapat tersebut, Dr. Siti Maryam Munjiat, S.S., M.Pd.I. ketua Prodi PAI UINSSC yang juga merupakan tim pemeringkatan, beliau menegaskan bahwa kebijakan penggunaan artikel ilmiah berbasis SDGs sebagai pengganti skripsi adalah peluang besar bagi mahasiswa PAI. “Di Jurusan PAI, kami sudah mulai mendorong mahasiswa untuk meneliti isu-isu seperti kesadaran gender dan integrasi nilai Islam dalam pembangunan berkelanjutan atau SDGs. Dengan kebijakan universitas yang baru, karya-karya ini tidak hanya akan berhenti sebagai syarat kelulusan, tetapi diarahkan untuk terbit di jurnal bereputasi atau terindeks Scopus”.

Scroll to Top