Cirebon — Anak yang gemar membaca bukanlah anugerah bawaan lahir, melainkan buah dari kebiasaan yang diasah sejak kecil. Pesan inilah yang disampaikan penuh semangat oleh Narasumber: Dr. Siti Maryam Munjiat, S.S., M.Pd.I., Selaku DPL dan juga Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, dalam Seminar Literasi Anak di Balai Desa Pamengkang, Kecamatan Mundu, Sabtu (9/8/2025). Kegiatan ini digagas oleh mahasiswa KKN Kelompok 28 dengan tema “Membangun Generasi Gemar Membaca dan Menulis Melalui Lingkungan Rumah yang Positif”. Tujuannya jelas: mengajak para orang tua menjadi “guru pertama” yang membentuk budaya literasi di era serba digital.

Orang Tua: Desainer Kurikulum Utama di Rumah
Menurut Dr. Siti Maryam, rumah adalah madrasah pertama, dan orang tua adalah kurikulumnya. “Minimal, jadilah pendengar yang baik bagi anak. Lebih dari itu, jadilah teladan. Bacalah buku bersama anak, bukan hanya memerintah mereka membaca,” ujarnya.
Ia lalu mengungkapkan filosofi literasi yang indah:
“Belajar itu seperti busur panah. Membaca mengikat busurnya, menulis melepaskannya. Dengan membaca kita mengenal dunia, dengan menulis dunia mengenal kita.”
Menggeser Anak dari Gadget ke Buku
Sesi tanya-jawab menjadi salah satu momen yang memantik perhatian. Rohim, mahasiswa KKN dari UGJ Cirebon, bertanya tentang cara menjauhkan anak dari kecanduan gadget. Dengan nada tegas namun bersahabat, Dr. Siti Maryam menjawab:
“Anak meniru apa yang mereka lihat. Jika orang tua sibuk dengan gawai, anak akan mengikuti. Maka, buat aturan jelas, batasi waktu, dan isi hari-hari dengan aktivitas bersama yang bermakna.” Pesannya sederhana: kurangi larangan, perbanyak alternatif kegiatan yang memicu rasa ingin tahu anak—terutama membaca dan menulis.

Wawasan Otak: Laki-laki vs Perempuan
Ibu Vina, salah satu wali siswa Madrasah Ibtidaiyah, mengajukan pertanyaan menarik soal perbedaan otak anak laki-laki dan perempuan dalam membaca. Dr. Siti Maryam menjelaskan, hasil riset neurosains menunjukkan: Perempuan memiliki lebih banyak koneksi antarbelahan otak, sehingga cenderung unggul dalam komunikasi dan multitasking, termasuk membaca cepat sedangkan laki-laki lebih dominan pada koneksi dalam satu belahan otak, membuat mereka fokus luar biasa pada satu tugas. Kesimpulannya, strategi literasi sebaiknya menyesuaikan karakter unik masing-masing anak.

Belajar Sambil Bermain
Tak hanya berisi ceramah, seminar ini dibalut dengan berbagai kegiatan interaktif: kuis literasi dengan menggunakan media Word Wall dan berhadiah bagi peserta yang hadir dengan menjawab benar, tak lupa narasumber juga memasukkan sesi ice breaking yang memecah tawa hingga sesi diskusi hangat terselesaikan. Dr. Siti Maryam menutup dengan pesan yang menggugah: “Fondasi masa depan yang gemilang dimulai dari rumah.”
Sebagai Moderator di acara ini, Karmilah. Hadir dalam seminar literasi ini: Kepala Madrasah Ibtidaiyah setempat, 19 wali siswa binaan, serta 4 mahasiswa KKN UGJ Cirebon sebagai mitra. Ketua pelaksana, Ibnu, mengaku bangga melihat antusias peserta: “Kami berharap semangat membaca yang tumbuh di sini akan terus menyala di rumah masing-masing.”
Di akhir acara, momen foto bersama menjadi penutup yang manis, mengabadikan sinergi antara mahasiswa, dosen, dan masyarakat.
Harapan diselenggarakannya seminar literasini: dari Desa Pamengkang, semangat literasi siap menembus batas, menginspirasi keluarga di seluruh Indonesia untuk membangun generasi yang cinta membaca dan pandai menulis.